PAREPARE, KLUPAS.COM – Pendidikan Dasar (Diksar) Korps Suka Rela (KSR) yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, Jumat-Ahad (26-28 November 2021) oleh KSR, salah satu organisasi kemahasiswaan yang ada di Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Parepare, Sulawesi Selatan, berakhir nahas.
Pasalnya, disaat para mahasiswa/mahasiswi IAIN, baik panitia maupun peserta diksar (Maba) tengah berkemas meninggalkan lokasi diksar (perkemahan), Minggu (28/11/2021) sore, lokasi perkemahan mereka yang berada di daratan tengah sungai tiba-tiba diterjang luapan arus Sungai Bilalange, Kelurahan Lemoe, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare.
Sebanyak 27 mahasiswa IAIN yang masih berada di lokasi perkemahan tersapu oleh luapan air sungai. Dua diantaranya terseret arus dan tewas tenggelam, yakni Asmira, warga BTN Beringin Kota Parepare, dan Nuriyangka, warga Patobong Kabupaten Pinrang. Keduanya merupakan mahasiswi semester 3 dan 5 Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (Fiaud). Sementara mahasiswa lainnya berhasil diselamatkan oleh tim gabungan yang sigap melakukan evakuasi.
Dikonfirmasi terkait kegiatan Diksar KSR Organisasi Mahasiswa IAIN Parepare di wilayah hukumnya, Kapolsek Bacukiki, AKP Mustafa, melalui Kanit SPK I Polsek Bacukiki AIPTU Suharna, mengatakan pihaknya sama sekali tidak pernah menerima laporan dari panitia Diksar perihal pelaksanaan kegiatan itu.
“Kegiatan itu (Diksar) tak ada laporannya sama sekali ke Polsek Bacukiki. Pak Kapolsek, Kanit Binmas, Bhabinkamtibmas-nya tidak tahu, tidak ada. Harusnya ada pemberitahuan, apalagi saat ini kondisi cuaca ekstrem,” kata AIPTU Suharna, di Mapolsek Bacukiki, Senin (29/11/2021) sore.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Parepare, DR. H. Muh Saleh, saat menggelar konferensi pers di Gedung Rektorat Lantai I Kampus IAIN Parepare menegaskan, diksar KSR merupakan kegiatan resmi mapaba dan izin untuk melakukan diksar itu ada, telah direstui oleh kampus dan ada SK-nya.
“Informasi saya dapat, mereka ada surat ke Kelurahan setempat. Mereka KSR dalam melakukan kegiatan mapaba, awal prosedurnya itu mereka mengajukan SK ke Rektor, SK kepanitiaan mapaba. Pada saat Rektor menerbitkan SK, otomatis kegiatan itu direstui. Kemudian dari kegiatan itu mereka mendesain skedulnya. Karena KSR ini adalah organisasi lapangan, jadi ada teori, ada pelatihan fisik, ada praktek lapangan. Jadi disitu skenarionya mereka,” jelasnya.
Untuk teori dan pelatihan fisik, kata dia, dilaksanakan di kampus. Sementara praktek lapangan, kadang mereka memilih lokasi di mana bisa menerapkan teori-teori yang sudah mereka dapatkan di forum. Mencari lokasi yang bisa melatih, membina karakter dari pesertanya untuk bisa memenuhi prinsip dari KSR itu (misi kemanusiaan).
“Jadi, kaitannya dengan izin, untuk per kegiatan di kampus (IAIN) kami memberikan izin. Pada saat dia keluar itu biasanya dia komunikasikan, tapi ini dia tidak komunikasikan. Nanti saya tahu mereka berkegiatan di luar setelah kejadian itu, dan setelah saya konfirmasi mereka bersurat, karena saya mencoba menelusuri skedul mereka itu. Jadi pada tanggal 13 itu dia interview peserta. Kemudian tanggal 14-19 dia lakukan uji fisik di kampus supaya mereka siap di lapangan nanti. Pada tanggal 20-24 disitu forum, itu materi KSR-PMI. Ini kan KSR kalau di luar itu induknya kan Palang Merah Indonesia. Tanggal 26-28 itulah di lapangan,” urainya.
Saleh menjelaskan, berdasarkan identifikasi pihaknya, kegiatan itu diikuti sekitar 30-an mahasiswa. Terdiri dari peserta diksar 13 orang (Maba), kepanitiaan ada 10-an mahasiswa, sementara sisanya adalah mahasiswa senior.
“Jadi kemarin (Minggu 28 November 2021) kita identifikasi sekitar 30-an yang hadir di tempat itu. Tapi ada juga belum banjir dia sudah pulang duluan. Yang tersisa di lokasi 27 orang,” jelasnya.
“Di area tempat mereka itu satu-dua hari sebelumnya tidak ada apa-apa. Bahkan hujan deras hari Sabtu menurut informasi hujan deras di lokasi itu juga tidak ada tanda-tanda banjir. Yang kemarin itu langsung muncul banjir, tapi pada saat mereka sudah siap untuk pulang. Jadi bukan lagi kegiatan diksarnya itu kemudian dia dapat banjir, tapi sudah kemas-kemas untuk pulang. Mobil untuk menjemput juga sudah ada, dia sudah akan kembali ke kampus, tiga hari di sana,” tambah dia.
Ia mengatakan, pasca musibah itu, pihaknya belum bisa melakukan komunikasi dengan Ketua atau Komandan Diksar KSR IAIN Parepare, Fajri, yang memimpin kegiatan itu, lantaran masih trauma.
“Tadi saya datang belum bisa komunikasi (Fajri), dia masih trauma sekali. Peserta kondisi saat ini yang ada di rumah sakit tinggal dua. Itupun tadi kami sempat bincang-bincang mereka sudah akan pulang sore hari ini. Fajri sepertinya belum bisa pulang, parah traumanya, makanya saya minta tadi salah seorang dosen psikologi kita di sini mencoba mendampingi. Karena selalu terbayang itu banjir dengan teman-temannya,” katanya.
Ia menegaskan, kampus (IAIN) bertanggungjawab atas kegiatan ini. Adapun tindakan yang dilakukan, lanjut dia, yaitu pertama ucapan belasungkawa kepada korban yang meninggal, kemudian yang selamat itu mulai kemarin begitu mendapat informasi dirinya langsung turun ke lokasi, dan meninggalkan lokasi setelah semua telah dievakuasi.
“Langsung saya minta dampingi terus di rumah sakit, di puskesmas sampai semua clear, termasuk juga yang meninggal. Kepada yang meninggal itu kami (kampus) ada uang belasungkawa, dan saya dengan pak rektor tadi pagi keliling, mulai kami kunjungi rumah duka di Patobong, kemudian saya dengan Rektor ke Beringin, setelah itu mengunjungi semua yang ada di rumah sakit,” tandasnya. (*)














