Energi untuk Anak Negeri

banner 120x600

PAREPARE, KLUPAS.COM – Masyarakat di wilayah pinggiran Kota Parepare, Sulawesi Selatan, kini memanfaatkan sumber energi terbarukan yang berasal dari bahan organik, yaitu kotoran hewan diurai melalui beberapa proses tahapan menjadi energi biogas yang digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari.

Lewat Program Kampung Energi Berdikari Bacukiki di Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Pertamina Patra Niaga, Fuel Terminal (FT) Parepare, mewujudkan komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina.

Pertamina melihat Watang Bacukiki adalah daerah pinggiran Parepare yang butuh sentuhan dari pemerintah. Tidak hanya fokus pada operasional energi, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh manfaat dari pengelolaan limbah kotoran hewan menjadi energi biogas dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Energi biogas dari kotoran hewan terurai oleh bakteri anaerobik. Gas yang dihasilkan seperti metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) menghasilkan energi yang digunakan warga untuk memasak kebutuhan sehari-hari. Mereka lebih hemat karena tidak perlu lagi menggunakan LPG. Energi biogas yang dihasilkan dari program ini sudah dinikmati anak negeri yang bermukim di wilayah pinggiran Parepare.

Fuel Terminal Manager PT Pertamina Patra Niaga FT Parepare, Adhi Warsito, mengungkapkan Program biogas ini terintegrasi dengan pertanian. Limbah pertanian dijadikan pakan sapi, sementara limbah dari proses pengolahan kotoran sapi menghasilkan pupuk cair (biosluri) yang dapat digunakan menyuburkan tanah pertanian.

“1 kelompok ada 13 orang. Untuk saat ini baru 10 titik reaktor, 1 reaktor melayani pemakaian 3 sampai 5 rumah. Energi biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi tidak berbau. Panci tidak gosong karena dia pakai energi baru terbarukan,” ujar Adhi, Rabu (13/8/2025).

Sekretaris Kelompok Peternak Tangguh, Sudirman (41), mengatakan dirinya memanfaatkan lahan di belakang rumahnya sebagai tempat melakukan proses pengolahan energi biogas.

“Di belakang rumah ada sapi yang dikandangkan. Kotorannya itu kemudian disemprot menggunakan air dan terdorong masuk ke dalam reaktor biogas. Berproses menghasilkan biogas sebagai sumber energi untuk memasak. Pipa dari reaktor langsung terhubung ke kompor di dalam rumah. Proses ini juga menghasilkan pupuk cair kaya nutrisi untuk lahan pertanian,” jelas Sudirman.

Ia menyebut, sejak program ini berjalan pada 2021, dirinya tidak pernah lagi membeli LPG untuk kebutuhan memasak.

“Ini sudah tahun kelima. Jadi (Energi biogas) tidak digunakan sendiri pak, dikasih juga ke tetangga, tinggal dihubungkan pipanya,” katanya.

Sementara Amelia, istri Sudirman mempraktekkan proses penyalaan kompor yang terhubung langsung dari reaktor biogas.

“Tetap ada regulator sebelum terhubung langsung ke kompor gas. Cuma harus ada pemantiknya untuk menyalakan, karena beda reaksi gas LPG dengan biogas. Apinya juga kencang berwarna kebiruan, dan tidak berbau. Makanan atau minuman yang dipanasi juga tidak berbau,” katanya.

Amelia mengaku sangat terbantu dan bisa berhemat pengeluaran karena tidak beli LPG lagi sejak adanya bantuan CSR Pertamina.

“Ini sangat menolong, karena untuk kebutuhan masak sehari-hari kami sudah tidak beli LPG. Biasanya kami memakai 2 atau 3 tabung LPG perbulan.

Ia juga mengakui risiko tingkat kebocoran gasnya lebih tinggi saat dirinya masih memakai LPG.

Lurah Watang Bacukiki, Nur Muhlisa, mengatakan sudah ada beberapa program dari CSR Pertamina yang masuk di wilayah kerjanya. Namun, kata dia, yang lebih unggul program energi biogas karena UMKM warga sudah memakai biogas dari CSR Pertamina, dan itu meningkatkan perekonomian warga.

Muhlisa menyebut, bukan hanya UMKM, namun di sektor kesehatan juga sekaitan dengan program Dahsyat (Dapur Sehat Atasi Stunting), itu CSR Pertamina juga masuk di dalamnya dengan memberikan peralatan untuk dapur Dahsyat.

“Setiap mengadakan posyandu
di Kelurahan Watang Bacukiki itu ada 6 posyandu. Setiap posyandu pasti ada PMT dari CSR Pertamina
lewat Dahsyat. Dengan penerima 4 di wilayah ini belum keseluruhan. Untuk saat ini baru 30 penerima manfaat dari 10 titik, jadi di RW 1, RW 7, RW 5, dan ada beberapa RW termasuk di RW 4. Insya Allah kami sudah komunikasi sama CSR Pertamina untuk membuat program lagi di RW 4,” paparnya.

Muhlisa mengungkapkan, untuk program energi biogas saat ini kendalanya karena masih kurang hewan ternak (sapi). Terutama di momen Idul Adha karena biasanya sapi warga terjual sebagian.

“Biogas memang harus ada ternaknya yang dikandangkan,” ujarnya.

Pemerintah keluaran Watang Bacukiki sangat mendukung dan bersyukur dengan kegiatan dan program berkelanjutan dari CSR Pertamina.

“Dari tahun 2021 sampai sekarang masih terus masuk programnya CSR Pertamina. Semoga kegiatan ini terus berlanjut,” katanya.

Beberapa program CSR Pertamina yang sudah berjalan di Kelurahan Watang Bacukiki, di antaranya program Dahsyat (Dapur Sehat Atasi Stunting) dengan membentuk rumah gizi di dalamnya. Ada wisata UMKM, berupa olahan ikan bandeng tanpa tulang, abon dari tulang ikan bandeng yang bermanfaat untuk balita-balita stunting. Desa wisata atau kelurahan wisata berkelanjutan yang Gapuranya rencana diresmikan pada 19 Agustus mendatang. (*)

https://klupas.com/wp-content/uploads/2024/11/IMG-20241109-WA0315.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *